Desa Pejeng: Jejak Peradaban Kuno dan Harmoni Alam di Ubud

Desa Pejeng

Desa Pejeng. Di balik ramainya Ubud yang dikenal sebagai pusat seni dan spiritual Bali, tersimpan sebuah desa yang sarat sejarah dan ketenangan alam, yaitu Desa Pejeng. Desa ini bukan sekadar perkampungan biasa, melainkan salah satu kawasan tertua di Bali yang menyimpan peninggalan peradaban kuno, tradisi sakral, serta lanskap sawah yang masih terjaga. Berkunjung ke Desa Pejeng serasa membuka lembaran masa lalu Bali, di mana alam, budaya, dan spiritualitas berpadu dalam harmoni yang menenangkan jiwa.

Desa Pejeng cocok bagi wisatawan yang ingin menikmati Bali secara lebih mendalam, jauh dari hiruk pikuk pariwisata massal. Di sini, waktu terasa berjalan lebih pelan, memberi ruang untuk menyelami keindahan yang autentik.

Deskripsi Desa Pejeng

Desa Pejeng dikenal sebagai desa bersejarah yang telah dihuni sejak ribuan tahun lalu. Wilayah ini merupakan pusat peradaban Bali Kuno, terbukti dari banyaknya situs arkeologi yang tersebar di berbagai sudut desa. Namun, daya tarik Pejeng tidak hanya terletak pada nilai sejarahnya, melainkan juga pada kehidupan masyarakat yang masih memegang teguh adat dan kearifan lokal.

Baca Juga : Bali Fun World Gianyar, Destinasi Bermain Keluarga Seru

Hamparan sawah hijau, aliran sungai kecil, pura-pura tua, serta jalur subak yang aktif digunakan hingga kini menjadi pemandangan sehari-hari. Salah satu wujud nyata keharmonisan tersebut adalah Subak Juwuk Manis, sistem irigasi tradisional yang tidak hanya berfungsi mengairi sawah, tetapi juga menjadi bagian dari kehidupan sosial dan spiritual masyarakat.

Lokasi Desa Pejeng

Desa Pejeng terletak di Kecamatan Tampaksiring, Kabupaten Gianyar, sekitar 6–7 kilometer dari pusat Ubud. Lokasinya strategis karena berada di jalur wisata budaya Ubud–Tampaksiring, sehingga mudah dijangkau namun tetap terasa tenang dan alami.

Lokasi : Google Maps

Lingkungan desa masih didominasi area persawahan, perbukitan kecil, serta aliran sungai, menjadikannya tempat ideal untuk wisata budaya dan alam dalam satu paket.

Daya Tarik Utama Desa Pejeng

Daya tarik Desa Pejeng sangat beragam dan berlapis, mulai dari sejarah kuno hingga lanskap alam yang menyejukkan.

Salah satu ikon paling terkenal adalah Pura Penataran Sasih, tempat bersemayamnya nekara perunggu raksasa yang dikenal sebagai Bulan Pejeng. Artefak ini dipercaya sebagai nekara terbesar di Asia Tenggara dan menjadi saksi penting peradaban Bali Kuno.

Tak kalah menarik adalah Subak Juwuk Manis, sebuah jalur subak aktif yang membentang di tengah sawah hijau. Subak ini mencerminkan filosofi Tri Hita Karana, yakni keseimbangan antara manusia, alam, dan Tuhan. Jalur setapaknya kini sering dimanfaatkan wisatawan untuk berjalan santai sambil menikmati suasana pedesaan yang asri.

Selain itu, Desa Pejeng juga memiliki situs Yeh Pulu Relief, relief batu kuno yang menggambarkan kehidupan masyarakat Bali tempo dulu, serta beberapa pura kuno yang masih digunakan untuk upacara adat hingga saat ini.

Baca Juga : Kumulilir Agro Tourism: Harmoni Alam, Edukasi, dan Relaksasi

Jam Buka

Desa Pejeng merupakan desa wisata terbuka, sehingga dapat dikunjungi kapan saja. Namun, untuk situs-situs tertentu seperti Pura Penataran Sasih atau Yeh Pulu Relief, waktu kunjungan terbaik adalah pagi hingga sore hari, biasanya antara pukul 08.00–17.00 WITA.

Pagi hari menjadi waktu favorit karena udara masih sejuk, cahaya matahari lembut, dan suasana desa terasa lebih hidup dengan aktivitas warga.

Tiket Masuk

Untuk memasuki area Desa Pejeng dan berjalan-jalan di kawasan persawahan serta Subak Juwuk Manis, tidak dikenakan tiket masuk. Namun, pada beberapa situs bersejarah biasanya terdapat donasi sukarela atau tiket dengan harga terjangkau untuk perawatan area.

Wisatawan dianjurkan membawa uang tunai kecil sebagai bentuk dukungan terhadap pelestarian situs budaya dan lingkungan desa.

Baca Juga : Pura Yeh Pulu: Jejak Relief Batu Sunyi di Jantung Ubud

Cara Menuju Desa Pejeng

Dari pusat Ubud, perjalanan menuju Desa Pejeng dapat ditempuh dalam waktu sekitar 15–20 menit menggunakan sepeda motor atau mobil. Rute paling umum adalah melalui jalur Ubud–Tampaksiring, dengan kondisi jalan yang cukup baik.

Wisatawan dapat menggunakan kendaraan pribadi, menyewa motor, atau menggunakan jasa transportasi online. Bagi yang ingin pengalaman lebih santai, bersepeda dari Ubud menuju Pejeng juga menjadi pilihan menarik karena pemandangannya sangat memanjakan mata.

Wisata Terdekat dari Desa Pejeng

Desa Pejeng

Mengunjungi Desa Pejeng sangat cocok dikombinasikan dengan destinasi wisata lain di sekitarnya, seperti:

  • Pura Tirta Empul
  • Gunung Kawi Tampaksiring
  • Goa Gajah
  • Desa Taro
  • Istana Kepresidenan Tampaksiring
  • Campuhan Ridge Walk

Dengan jarak yang relatif dekat, satu hari perjalanan bisa diisi dengan eksplorasi budaya dan alam secara seimbang.

Aktivitas Wisata di Sekitar Desa Pejeng

Beragam aktivitas menarik bisa dilakukan saat berkunjung ke Desa Pejeng. Wisatawan dapat berjalan santai menyusuri Subak Juwuk Manis, menikmati pemandangan sawah sambil mendengarkan suara alam yang menenangkan.

Aktivitas lain yang populer adalah:

  • Trekking ringan di jalur persawahan
  • Fotografi lanskap dan budaya
  • Mengunjungi pura dan situs sejarah
  • Mengikuti aktivitas pertanian tradisional
  • Meditasi atau yoga di alam terbuka

Desa Pejeng juga cocok untuk wisata edukasi, terutama bagi wisatawan yang ingin memahami sistem subak dan sejarah Bali Kuno secara langsung.

Kesimpulan

Desa Pejeng adalah destinasi yang menawarkan pengalaman Bali yang autentik, tenang, dan penuh makna. Perpaduan antara situs sejarah kuno, kehidupan desa yang masih lestari, serta keindahan alam seperti Subak Juwuk Manis menjadikan desa ini sebagai permata tersembunyi di kawasan Ubud.

Bagi kamu yang ingin menjelajahi Bali lebih dalam, bukan hanya sebagai tempat liburan tetapi juga ruang pembelajaran budaya dan spiritual, Desa Pejeng adalah pilihan yang tepat. Sebuah tempat di mana masa lalu dan masa kini berpadu harmonis, menghadirkan pengalaman wisata yang tak hanya indah dipandang, tetapi juga kaya akan nilai.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *